Diam-diam Mengagumi Mu, Diam-diam Melepaskan Mu

Diam-diam Mengagumi Mu, Diam-diam Melepaskan Mu

Diam-diam Mengagumi Mu, Diam-diam Melepaskan Mu



"Saat aku memberanikan diri layaknya Ibunda Khadijah, namun kau membuatku diam layaknya Fatimah, dan sekarang aku memilih menjadi Zulaikha, yang mengejar cinta Rabb nya" 

Terkadang saat aku berpapasan denganmu, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan kepadamu sehingga bertemu denganmu saja aku merasa malu dan takut. Berkali-kali saat melihatmu aku merasakan sesuatu hal yang tidak biasa. Berkali-kali aku berpikir, apakah yang aku rasakan ini cinta atau hanya nafsu?

Aku berusaha menyakinkan diriku untuk mengatakan perasaan ku, mengatakan apa yang aku rasakan saat berpapasan denganmu. Aku memberanikan diri untuk mengutarakan bahwa aku mencintaimu. Namun realitanya banyak wanita yang menyukaimu, banyak wanita yang mengagumimu. Bahkan wanita itu lebih baik dari diriku, mereka lebih Sholehah dariku. 

Aku hanyalah wanita yang jauh dari kata sholehah, aku adalah orang awam yang tidak terlalu mengerti dalam urusan agama. Karena itu aku lebih memilih untuk diam, biarlah ku pendam perasaan ini. Tanpa menyebutkan namanya Allah pun tahu kalau aku mencintainya. 

"Aku tidak akan memintamu lagi, karena titik terbaik mencintai adalah membiarkan dirimu bahagia bersama siapapun. Inilah yang semesta kabarkan padaku"

Aku mengagumimu diam-diam bahkan sudah mencintaimu. Memantau semua sosial media mu, dan aku dikejutkan oleh satu nama yang ada di bio akun sosial media mu. Rupanya kau telah di jodohkan dengan perempuan lain, seketika petir telah menyambar ke lubuk hati ku. Ketahuilah, bahwa aku sempat melangitkan namamu di setiap sholatku. Pernah ku mengatakan pada Rabb ku untuk menjadikan mu milikku, sempat ku berpikir lagi "apakah aku pantas untukmu?" Aku memang jauh dari kata Sholehah, tapi percayalah bahwa aku benar-benar menyukai mu tanpa syarat apapun.

Tapi, Akulah yang tidak pantas untukmu. Kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku. Di sepertiga malam nanti, aku sudah tak ingin melangitkan namamu lagi. Cukup Allah saja yang tahu seberapa sering aku memintamu dalam tadahku. Tapi tidak lagi, aku sudah tidak ingin melangitkan namamu walau aku masih menginginkan mu.

Aku tidak akan meminta izinmu untuk mencintaimu sampai batas lelahku, karena aku akan memaksa diriku sendiri untuk melupakan mu. Bukankah titik terlelah mencintai seseorang adalah ketika seorang hamba meminta pada Tuhannya bukan untuk lagi di dekatnya, tapi mengiklaskan.

Bionarasi Penulis:
Nia Putri Wulandari, lahir di Purbalingga pada 5 September 2006. Ia sedang mendalami dunia kepenulisan, karena menulis juga salah satu hobinya untuk meluah kan keluh kesahnya, dan karya sebelumnya juga pernah di buku kan di beberapa penerbit lain. Pembaca juga dapat berinteraksi dengan penulis melalui sosial media pribadinya.
Instagram: @niputreal
E-mail: niaputriwulandari1@gmail.com
WhatsApp: -

Belum ada Komentar untuk "Diam-diam Mengagumi Mu, Diam-diam Melepaskan Mu "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel